Di dalam momentum Idul Adha tersebut, setidaknya ada tiga tokoh yang terlibat langsung, yakni Nabi Ibrahim A.S. ( sebagai ayah ), Siti Hajar ( sebagai ibu ) dan Nabi Ismail A.S. sendiri sebagai seorang anak.
Perkawinan Nabi Ibrahim A.S. dan Isterinya Siti Hajar yang telah dijalaninya berpuluh tahun tanpa menghasilkan seorang keturunanpun, namun tidak mengubah keinginan dan tekad Nabi Ibrahim dan Siti Hajar untuk mendapatkan anak, upaya tersebut terus dilakukannya hingga pada akhirnya dalam usianya yang sudah cukup renta pasangan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar dikaruniai seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ismail.
Nabi Ibrahim dan Siti Hajar adalah manusia biasa yang tentu saja tidak terlepas dari sifat kemanusiannya. Sebagaimana kita tahu melalui sejarah bahwa keduanya sangat mencintai putra tunggal kesayangannya waktu itu, maka tidak heran ketika kemudian datang perintah Allah untuk menyembelih anaknya membuat hati pasangan Ibrahim dan Siti Hajar menjadi terkejut dan bahkan pada awalnya mereka ragu atas perintah tersebut. Diulanginya kembali perintah Allah itu melalui mimpinya pada malam berikutnya dengan muatan perintah yang sama yakni agar Nabi Ibrahim rela melepas putra tunggal yang sangat disayanginya, dengan jalan memutus saluran nafasnya alias disembelih.
Berangkat dari dua muatan mimpinya itu kemudian Ibrahim bermusyawarah dengan anaknya Ismail. Kisah ini sebagaimana dimuat dalam QS. Ashofat (37):102
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ
Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu.
Kemudian Ismail memberikan jawaban:
قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatimu termasuk orang-orang yang tabah.
Peristiwa tersebut dapat difahami betapa tulus dan ikhlasnya Nabi Ibrahim dan Siti Hajar sebagai orang tua yang telah dengan ikhlas melaksanakan ujian Allah SWT walapun harus menyembelih si buah hati kesayangannya. Padahal kelahiran Ismail sudah sejak lama diidam-idamkannya. Begitu juga Ismail sebagai sosok remaja yang pantang menyerah untuk berbakti kepada orang tua dan apalagi berbakti kepada Allah SWT sekalipun nyawa sebagai taruhannya.
Peristiwa tersebut sesungguhnya telah memberikan pengajaran kepada kita yakni semangat berkurban yang sangat tinggi nilainya yang seharusnya kita teladani dalam menjalani kehidupan yang semakin mengglobal seperti sekarang ini. Jadi momentum Idul Adha bukan sekedar kita lalui dan jalani secara serimonial semata, melainkan harus kita renungkan kemudian diresapi hakikat dari sebuah peristiwa tersebut.
Mengingat bahwa hakikat Idul Adha bukan hanya wujud Spirit dalam menyembelih hewan kurban semata. Namun hakikat Idul Adha yang sesungguhnya adalah wujud spirit dalam menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada diri kita.
Ketika hewan kurban disembelih, pada saat itu pula seharusnya sifat-sifat kebinatangan kita seperti sikap merasa paling hebat, merasa paling kuat, merasa paling benar, merasa paling pintar, tidak peduli pada sesama, menindas, serakah, rakus, acuh tak acuh dan lain-lainnya.
Perbedaan manusia dengan binatang terletak pada akal pikirannya. Dengan akal dan pikiran yang dimilikinya, manusia seharusnya mampu membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang halal dan yang haram, antara perintah dan larangan, antara yang menyelamatkan dan yang membahayakan, antara yang hak dan yang bathil, manuasia yang tidak mampu menggunakan akal dan pikirannya seumpama binatang yang berjalan dalam wujud manuasia.
Hari ini betapa banyak binatang dalam wujud manusia yang bertebaran di muka bumi dan telah merusak tatanan alam dunia dengan keserakahan dan kerakusannya.
Semangat berkurban merupakan salah satu muatan yang paling menonjol dalam peristiwa Idul Kurban, sebuah pengorbanan demi membuktikan ketaatannya kepada Allah SWT. Hanya karena Allah jualah Ismail rela berkurban walau harus dengan nyawa sekalipun. Kemudian Nabi Ibrahim rela berkurban walau harus melepas sesuatu atau bahkan seorang anak yang sangat dicintainya.
Dari sini mari kita pertanyakan tingkat pengorbanan kita masing-masing, sejauh mana kita telah berkurban dan dengan apa kita telah berkurban di jalan Allah SWT.
Hanya pribadi kita masing-masing yang mampu menjawabnya. Yang jelas di dalam dinamika hidup dan romantika hidup ini tidak akan lepas dari nilai-nilai sebuah pengorbanan, dan mari kita berkurban untuk kebenaran agama Allah seperti pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail.
Oleh karenanya melalui QS. Al-Kautsar (108): 1-2 Allah mengingatkan
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ࣖ
Kata Allah: sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dari itu dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.
Kalau Nabi Ibrahim dan Siti Hajar sebagai orang tua telah rela berkurban melepas anak kesayangannya yang merupakan sibuah hati yang kehadirannya sangat didambakan. Kemudian Ismail telah rela berkurban sekalipun harus mati di tangan orang tua yang sangat dicintainya, maka kita juga seharusnya rela berkurban menyisihkan rizki untuk menyembelih binatang kurban, berinfak dan bersedekah, kita juga harus rela berkurban menyisihkan sedikit waktu untuk sholat lima waktu dan kita juga harus berkurban menyisihkan waktu untuk berjuang membela Agama Allah SWT.

Pegawai Pengadilan Agama Mempawah Kelas IB ikut meneladani kisah Nabi Ibrahim A.S. dalam berkurban. Hari ini tanggal 11 Juli 2022, PA Mempawah menyembelih 2 ekor sapi dan membagikan daging kurban tersebut kepada orang yang berhak. Selain untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, kegiatan ini bermanfaat juga untuk mempererat rasa kekeluargaan antar pegawai dengan saling membantu.

Ibadah Kurban merupakan warisan napak tilas dan sejarah Nabi Ibrahim As, Nabi Ismail As, dan Siti Hajar , Ibadah kurban mengandung unsur kepasrahan dan ketundukkan seorang hamba kepada tuhannya seraya dilanjutkan dalam bentuk penguatan relasi kemanusian. Hakikat kurban tidak hanya ekspresi keshaklihan Individual saja, namun hakikat kurban adalah wujud dari keshalihan sosial yang mengandung unsur penguatan relasi kemanusian melalui momen berbagi antar sesama. (Suriadi)













