Serba Serbi TPM Hakim Minggu ini

Kabar Berita |www.pa-mempawah.go.id
Mempawah - Raut kesedihan tampak di muka nya, begitupun langkah kakinya seperti terseok seok laksana pohon bambu terkena angin samudera. Rupanya kabar tak sedap sedang menghinggapinya. Bahkan ucapan selamat dari rekan tak juga dihiraukannya.
"𝘱𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘳𝘰...𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶" pungkasnya.
Pasca pengumuman Tim Promosi Mutasi (TPM) Hakim pada selasa (10/08/2021) lalu, kegamangan pikiran memang sedang menghinggapi salah satu hakim PA Mempawah. Namanya Taufik Rahayu Syam, SHI, MSI. Alumnus UIN Sunan Kalijaga ini ternyata harus hengkang dari PA Mempawah menuju Mahkamah Syar'iyah Simpang Tiga Redelog Kabupaten Bener Meriah Provinsi NAD. Kali ini ia di promosikan menjadi Wakil Ketua di sana.
Walaupun statusnya di promosikan, nampaknya setelah pengumuman TPM tersebut suasana tak heppy menyelimutinya. Maklum penempatannya tidak sesuai ekspektasi "𝘢𝘸𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘓𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘩 " Namun keberuntungan nampaknya belum berpihak kepadanya. Kini ia harus menjauh 2200 KM dari home base nya di Serang Banten.
Setelah beberapa hari berlalu, nampaknya kegalauan sudah mulai sirna dari dirinya, Hakim kelahiran Majalengka ini mulai menerima takdirnya di tempatkan di MS Simpang Tiga Redelong.
"𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘪𝘬𝘮𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘥𝘪𝘭𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘪𝘯𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘰𝘮𝘦𝘯𝘵 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘬𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘰 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘢𝘺𝘢" tandasnya dengan yakin.
Lain lagi dengan sosok hakim wanita ini, Ita Qonita, SHI namanya. Awalnya ia tak diprediksi masuk gerbong TPM tahun ini, ternyata namanya terpampang juga di pengumuman yang ditunggu-tunggu para Hakim tersebut. Kali ini senyum merekah tampak di wajahnya, maklum kali ini ia dimutasi ke tempat yang diharapkannya yakni ke PA Purwerejo Jawa Tengah. Bagi Ita tempat tugas barunya nanti hanya berjarak sekitar 50 KM dari rumah oramg tuanya di Sleman Provinsi DIY. Namun begitu, ia mengaku santai saja dan tak buru buru hengkang dari Mempawah.
"𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪" tandasnya.
Bagi para Hakim, 𝘵𝘰𝘶𝘳 𝘰𝘧 𝘥𝘶𝘵𝘺 dan 𝘵𝘰𝘶𝘳 𝘰𝘧 𝘢𝘳𝘦𝘢 merupakan risiko pekerjaan yang harus ditanggungnya. Bahkan perpindahan tugas tersebut bisa terjadi antar provinsi atau antar pulau. Terkadang Hakim di Jawa Barat bisa di mutasi ke Provinsi Papua sana atau sebaliknya. Hal tersebut bertujuan untuk menambah wawasan dan pengalaman sang Hakim, katanya sih air yang mengalir itu lebih bagus dari pada air yang menggenang. Begitu ibaratnya.
Oleh karenanya, bagi para hakim penempatan tugas di home base nya merupakan hadiah terbesar buat mereka. Banyak juga yang di tempatkan di daerahnya sendiri tapi tidak sedikit juga yang harus berkelana ke daerah lain dan terpisah dengan keluarganya. Ya itu memang risiko pekerjaan. Jadi Hakim memang pengabdian tulus kepada Bangsa, Negara dan Agama. Jadi, ada yang masih mau jadi Hakim? (Dotty)












